Snow White and 7 BIG Dwarfs [#1 Trauma]

ohnajla || romance, fantasy, fairy tale, school life, explicit || Teen || chaptered

Gong Baekseol, all BTS member, other cameo 

seperti mimpi namun nyata. Gong Baekseol terbangun di sebuah tempat asing dan bertemu dengan 7 kurcaci yang sangat mirip dengan 7 lelaki yang menjadi penyebab ia bunuh diri. 

#1 Trauma

menjadi boneka memang menyedihkan,

tapi kau tahu apa yang menyedihkan?

cinta yang hanya sepihak

 

“Hei, Baekseol! Ikut sini.”

Semua mata di ruangan itu langsung tertuju pada satu titik. Titik yang sudah jelas di mana koordinatnya, seseorang yang sudah tidak mengherankan lagi.

“Cepat! Jangan pakai lama.”

Gadis yang dipanggil Baekseol, diam-diam menghela napas sebelum kemudian bangkit dari duduknya sambil mencangklong tas. Semua mata yang tertuju padanya membuatnya tidak berani untuk mengangkat kepala saat keluar dari kelas. Ah tidak perlu melihat satu-satu, dia sudah tahu apa yang ada di pikiran mereka saat melubangi punggungnya dengan tatapan-tatapan itu.

“Kenapa kau lesu sekali, hm? Mereka mengganggumu?”

Seseorang yang sama dengan yang memanggilnya tadi, bertanya dengan penuh perhatian sambil mengalungkan tangannya di leher Baekseol. Ia melirik isi kelas Baekseol sekilas sebelum mengajak gadis itu pergi bersamanya.

“Mau coba?”

Baekseol langsung terbatuk saat putung rokok tiba-tiba diselipkan begitu saja di antara katup bibirnya tanpa peringatan. Ada sedikit rasa pahit di bibirnya, pun asap yang mengganggu indera penciumannya. Dia segera membungkam mulut dan hidungnya, berbarengan dengan tawa dari seseorang yang merangkulnya.

“Oh maaf. Aku lupa kau tidak suka merokok.”

Baekseol masih tetap berada di rangkulan lelaki itu sampai mereka keluar dari gerbang sekolah. Ada enam laki-laki lain yang sudah menunggu di depan gerbang. Nyaris sebagian besar dari mereka berpenampilan sama dan merokok seperti lelaki yang merangkul Baekseol. Aroma rokok tercium kuat dari mereka, Baekseol rasanya ingin muntah.

“Ck, kenapa kau harus bawa dia segala?” seru salah seorang di antaranya yang berambut keriting. Mata kecilnya yang tajam sanggup menusuk retina Baekseol.

“Kau seperti tidak tahu Namjoon saja,” jawab seorang yang lain, dengan highlight ungu di bagian kanan rambutnya sambil menghembuskan asap rokok melalui hidung.

“Aish mengganggu.”

Lelaki yang merangkul Baekseol, Kim Namjoon, mencabut putung rokok dari bibirnya dan menginjaknya hingga mati ke tanah. “Justru dia mempercantik. Apa menariknya aku pergi bersenang-senang hanya dengan sesama pemilik jakun seperti kalian? Toh kaulah yang paling sering menyuruhnya ini itu, Min Yoongi.”

“Jadi kapan kita berangkat? Aku sudah tidak sabar ingin segera menguasai uang taruhan Seokjin,” sahut lelaki bernama dada Kim Taehyung, yang ironisnya lebih pantas disebut preman ketimbang anak sekolahan. Rambutnya yang agak keriting dan panjang tampak menutupi seluruh bagian tengkuknya, pun anting di bibirnya yang kehitaman membuatnya terlihat cukup menakutkan.

“Ayo berangkat. Di mana mobilmu, Jungkook?”

“Di sana. Kaja.”

Baekseol yang sedari tadi hanya diam, menurut saja ketika dirangkul Namjoon untuk mengikuti ke mana mereka pergi. Ia tidak sekalipun mengangkat wajahnya. Depan sekolah mereka tidaklah sepi, banyak para pejalan kaki yang lalu lalang dan melihatnya bersama ketujuh berandal itu. Tidak jarang Baekseol mendengar cacian dan ungkapan kasihan dari orang-orang yang melihatnya.

Limousine hitam yang terparkir tidak jauh dari sekolah adalah tujuan mereka. Ngomong-ngomong mobil itu milik Jeon Jungkook, lelaki yang kelihatan paling trendy soal gaya rambut di kelompok berandal itu dan populer karena gaya rambut komanya. Panjangnya mobil itu tak terkira, seperti kereta api kalau Baekseol boleh sedikit bercanda. Sayangnya, ia tidak pernah berminat untuk bercanda lagi semenjak menjadi barang mainan tujuh berandal ini.

Tubuhnya dihempas begitu saja ke atas salah satu dudukan lalu tak lama kemudian ditindih oleh seseorang. Kim Namjoon, lelaki itu menyeringai penuh arti saat mendapati ekspresi takut Baekseol.

“K-kau mau apa….”

“Aku mau apa? Tidak salah bertanya hum? Menurutmu aku mau apa?”

“Lepaskan a—HMPH!”

Belum sempat Baekseol menyelesaikan kalimatnya, Namjoon sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan bibir. Ia berusaha mendorong Namjoon, namun seseorang tiba-tiba menarik kedua tangannya ke atas dan mengikatnya dengan sabuk. Tidak cukup dengan itu, ia bahkan melihat seseorang mengarahkan handycam yang menyala untuk merekam apa yang dilakukan Namjoon padanya.

Kim Seokjin dan Park Jimin, dua orang yang paling dekat dengan Kim Namjoon itu dengan tanpa belas kasih menatapnya, seolah mengatakan, “Bukan urusanku.”

“Jungkook-a, mana suntiknya?” Namjoon tiba-tiba melepaskan pagutannya dari Baekseol demi meneriaki si pemilik mobil yang sejak tadi tampak sibuk sendiri.

“Sebentar lagi.”

Baekseol menggeleng sambil memukul-mukul Namjoon dengan tangannya yang sudah terikat. “Jangan … kumohon jangan….”

Namjoon menyeringai sambil menyingkirkan rambut Baekseol yang menutupi wajah. “Wae? Ini akan menyenangkan, percayalah. Kau pasti akan menyukainya.”

Baekseol pun memukul keras wajah Namjoon dengan tangannya yang terikat. “Lepaskan aku, brengsek!!”

PLAK!

“Beraninya kau memukulku. Yaa pegangi tangannya, sialan! Aku menyuruhmu memegangi tangannya, bukan cuma mengikatnya!” bentak Namjoon pada Jimin yang tadi mengikat tangan Baekseol. Lantas kepalanya menoleh pada Jungkook. “Cepatlah sedikit aish! Aku sudah tidak tahan!”

Saat Jungkook baru selesai mengisi alat suntik itu dengan suatu cairan, Namjoon dengan tidak sabaran langsung merebutnya dan menancapkannya di lengan Baekseol. Gadis itu meronta-ronta ketika cairan suntik tersebut memasuki nadinya. Namjoon lantas melempar alat suntik itu setelah semua cairan di dalamnya telah berpindah tempat ke tubuh Baekseol. Senyumnya mengembang ketika melihat reaksi cairan tersebut di tubuh Baekseol. Tanpa perlu menunggu lama ia segera melucuti bawahan Baekseol.

“Ayo kita bermain, Snow White.”

“Aaaa!!”

Seluruh tubuh Baekseol sakit. Pipi, bibir, leher, pergelangan tangan, dada, perut dan titik-titik sensitifnya semuanya sakit. Matanya pun sudah sangat bengkak mengingat ia tidak hentinya menangis. Bahkan saat matanya terbuka dan menemukan dirinya dalam kondisi berantakan sendirian di dalam limousine mewah itu, air matanya kembali mengalir. Ia menangis pilu. Mencoba menyentuh bagian tubuhnya yang sakit, namun kejadian yang mengerikan itu kembali menyapa. Ia berteriak, ketakutan. Kakinya menendang-nendang udara saat wajah Namjoon, Jimin, Seokjin, Jungkook dan tiga lainnya tiba-tiba membayanginya.

Butuh waktu hampir setengah jam baginya untuk tenang. Dipakainya kembali seragamnya, lantas ia pun pergi dari limousine tersebut.

Mereka tidak ada, Namjoon beserta pasukannya tidak ada. Ia terus berjalan dengan mengandalkan kedua kakinya. Tatapannya kosong. Pun tampak sama sekali tidak terpengaruh dengan ramainya lalu lintas di jembatan yang sedang dilaluinya. Dinginnya angin yang membelai tubuhnya pun ia tidak gentar. Kakinya yang berbalut sepatu tanpa kaos kaki itu berhenti tepat di titik tengah jembatan. Ia menghadapkan seluruh tubuhnya pada pembatas jembatan. Menutup matanya sejenak merasakan angin menampar wajahnya.

Dan saat ia membuka matanya kembali, wajah ketujuh lelaki itu tiba-tiba muncul berderet di depannya. Tubuhnya gemetar. Ia menggenggam erat beberapa putung rokok bekas yang dirampasnya dari asbak di limousine Jungkook.

“Gong Baekseol, nama yang cantik bukan?”

“Kenapa Eomma memberiku nama itu?”

“Karena kau lahir saat salju pertama turun. Kulitmu pun sangat putih, seperti salju. Dan dengan nama itu, Eomma berharap nasibmu sama seperti putri salju. Coba bayangkan pangeran tampan meminangmu, bukankah indah?”

Diambilnya napas dalam-dalam. Lagi-lagi, ketika ia membuka mata, wajah ketujuh lelaki itu muncul kembali. Hatinya sakit, terlebih mengingat wajah Park Jimin dengan tatapan tanpa belas kasihan saat melihatnya dihancurkan oleh Namjoon.

Menelan rasa sakit, ia pun memanjat pagar pembatas itu dan berdiri di bagian luar pembatas. Sungai menghampar luas di hadapannya, terlihat gelap karena hari memang sudah ingin tidur. Kedua lengannya terentang lebar, disambut dengan pelukan dingin angin malam.

“Selamat tinggal malam. Selamat tinggal hidupku. Selamat tinggal eomma, appa. Selamat tinggal …

Park Jimin….”

BYUR

“GONG BAEKSEOL!”

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s