Swag Couple Series [#44 Jimin (2)]

ohnajla || romance, schoollife, family || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC), Park Jimin BTS , Jeon Jungkook BTS, Kim Taehyung BTS, other cameo

Swag Couple Series [#40 The End?]

#41 Yoonji (1) | #42 Jimin (1) | #43 Yoonji (2)

Park Jimin dan Min Yoonji kini bukan lagi sepasang kekasih. Namun mereka tak bisa benar-benar saling melupakan satu sama lain karena suatu hal. Takdir seperti sengaja membuat mereka untuk kembali bersatu. Akankah mereka kembali sebagai sepasang kekasih seperti semula atau justru semakin menjauh?

Dadaku rasanya terbakar setelah mendengar penjelasan Yoonji. Jadi begitu kelakuannya saat aku dan ibu susah payah mencari uang demi menebus dana berobat ayah? Apa yang sebenarnya ada di pikirannya? Mungkin saja dia malah tidak memikirkan ayah, ibu dan kakaknya ini. Sial.

Yoonji bilang, di jalan inilah dia pergi bersama pria itu. Sejauh mata memandang tidak ada yang spesial di sini. Bayangan akan tempat yang mengerikan dan berbahaya seketika sirna saat kulihat kedai-kedai makanan tampak berjejer di kanan kiri jalan. Bisa dibilang ini jalan umum, biasa dilalui oleh anak-anak remaja seperti Jihyun. Hanya saja di sana….

Yaa!

Kepalaku menoleh bersamaan dengan tubuhku yang ditarik ke belakang oleh seseorang. Ah, itu Yoonji. Ia tampak terengah seperti baru saja berlari.

“Kau akan mencarinya sekarang?”

Aku pun menghadapkan seluruh tubuhku padanya. “Hm. Aku harus membawanya pulang.”

Heran rasanya saat dia membalas dengan gelengan.

“Jangan sekarang. Ini masih masa ujian, bagaimana kalau ada apa-apa denganmu?”

Dadaku ingin membuncah mendengar ungkapan kekhawatiran itu darinya. Ya Tuhan, Yoonji … kenapa kau malah makin menyiksa rinduku?

Gwaenchanha. Aku hanya akan mengajaknya pulang. Tidak akan ada yang terjadi.”

Mungkin aku bilang seperti itu, bahkan mempertegasnya dengan senyuman, padahal jauh dalam lubuk hati, aku sendiri tidak yakin apakah memang benar yang kuucapkan barusan.

Lucunya, aku baru sadar kalau aku baru saja bertingkah idiot. Sejak kapan aku mempan membohongi Yoonji? Sejak kapan? Coba baca ulang cerita kami saat masih menjadi sepasang kekasih. Ia tidak menyetujuinya seperti yang kuduga.

“Tidak. Apa pun yang terjadi jangan sekarang.”

“Tapi—”

“Ujian kelulusan jauh lebih penting, Park Jimin. Ini prioritasmu. Kalau kau gagal karena ini, kau akan membuat orangtuamu semakin susah. Kita bisa menunggu sampai dua hari ke depan.”

Aku hanya bisa diam sambil memandangnya. Kenapa dia seperti ini? Maksudku, kenapa dia harus memberitahuku soal Jihyun? Kenapa juga dia sampai memikirkan orangtuaku? Dan kenapa dia harus repot-repot mengkhawatirkanku?

Dia siapa? Kini tidak ada status pasti di antara kami selain teman satu kelas untuk mempertegas alasan bahwa dia ‘boleh’ menaruh perhatian padaku.

“Tidak, Yoonji. Aku harus menjemputnya sekarang. Siapa tahu kalau ternyata dia sedang dalam bahaya? Kita tidak tahu siapa pria itu. Bagaimana kalau dia berbuat sesuatu pada adikku? Aku tak mengapa. Jangan mengkhawatirkanku.”

Aku pun mundur selangkah kemudian berbalik untuk melanjutkan perjalananku yang sempat tertunda karenanya. Ya, aku tidak boleh berhenti hanya karena Yoonji. Bisa jadi Jihyun sekarang sedang membutuhkanku. Anak itu terlalu ceroboh. Bisa-bisa dia salah mengambil keputusan dan jatuh ke jalur yang salah. Aku tidak mau adikku satu-satunya menjadi rusak di saat kondisi keluarga sedang hancur-hancurnya.

Tapi sekali lagi, Yoonji mencoba menghalangi jalanku. Maksudku, dia benar-benar menghalangi jalan. Ia tiba-tiba sudah berdiri di depanku dengan membentangkan kedua lengannya, berharap dengan begitu aku tidak bisa terus melanjutkan langkahku.

Melihatku berhenti, dia pun menurunkan kedua lengannya.

“Oke kalau kau memaksa ingin segera menemuinya sekarang. Tapi biarkan aku ikut. Kau tidak boleh pergi sendirian.”

“Kau tidak boleh ikut,” balasku sedikit tak suka. “Orangtuamu akan khawatir kalau kau tidak segera pulang sekarang.”

“Lalu bagaimana denganmu? Kau pikir orangtuamu tidak akan khawatir?” Ia membalas dengan kalimat yang sama sekaligus smirk yang mengingatkanku pada Yoongi hyung.

“Itu kasus yang berbeda, Yoonji-a. Kau anak perempuan. Ini sudah hampir petang, jadi pulanglah.”

“Oke aku memang perempuan, lalu kenapa? Tidak ada yang ingin kutemui di rumah. Tidak ada sosok yang menganggapku ‘anak perempuan’ di rumah itu. Jadi kenapa aku harus segera pulang?”

“Yoonji-a….”

“Dengar, hanya Yoongi yang boleh memerintah dan melarangku. Kau … kau tidak berhak.”

Perasaanku menjadi makin tidak tenang setelah mendengarnya berbicara seperti itu. Dia amat sangat keras kepala. Dan Yoonji yang kutahu adalah tipikal gadis yang berani menaruh diri dalam bahaya demi melindungi orang yang dikasihinya. Jika bukan Yoongi yang menghentikannya, dia pasti tidak akan pernah berhenti.

Akhirnya, aku pun memilih untuk mengalah.

“Baiklah. Kita pulang sekarang.”

Kugandeng tangannya untuk kembali ke halte tempat kami turun tadi. Tidak ada penolakan darinya. Kutarik pelan tangannya supaya berjalan sejajar denganku. Kami lantas duduk di kursi tunggu halte.

Ada banyak kenangan yang hadir dalam pikiranku ketika menunggu bus bersamanya di sini. Baru sepekan lalu tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun lamanya. Jika situasi masih sama seperti yang dulu mungkin aku akan memeluknya sambil berkeluh kesah. Namun situasi sudah tidak lagi sama. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk memberitahunya bahwa aku masih menyayanginya seperti yang lalu. Menggenggam tangannya erat.

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s