Swag Couple Series [#46 Jimin (3)]

Min Yoonji (OC), Park Jimin BTS , Jeon Jungkook BTS, Kim Taehyung BTS, other cameo

Swag Couple Series [#40 The End?]

#41 Yoonji (1) | #42 Jimin (1) | #43 Yoonji (2)

#44 Jimin (2) | #45 Yoonji (3)

Park Jimin dan Min Yoonji kini bukan lagi sepasang kekasih. Namun mereka tak bisa benar-benar saling melupakan satu sama lain karena suatu hal. Takdir seperti sengaja membuat mereka untuk kembali bersatu. Akankah mereka kembali sebagai sepasang kekasih seperti semula atau justru semakin menjauh?

 

Kami terlambat sampai di sekolah. Ujian telah berlangsung lima menit, segera kami duduk di bangku masing-masing untuk mengerjakan soal.

Kedatangan kami yang terkesan bersama-sama kurasa sempat membuat fokus semua orang di kelas terganggu. Terlebih Jeon Jungkook. Ia menatapku lamat-lamat dengan mata bulatnya hingga membuatku risih.

Wae?” bisikku kesal.

“Kalian habis melakukan apa sampai terlambat?” tanyanya yang juga sambil berbisik.

“Bukan urusanmu.”

“Mata bengkakmu menjelaskan semuanya.”

“Jeon Jungkook, apa yang sedang kau bicarakan? Penting?”

“Ah tidak, Ssaem. Maaf.”

Terima kasih seonsaengnim, kau telah berjasa menyelamatkanku dari pertanyaan-pertanyaan anak itu.

Jujur saja, ujian hari itu berjalan tidak sebaik sebelum-sebelumnya. Tidak fokus, dan pusing selama hampir seluruh sesi ujian. Tahu-tahu seseorang mengguncang bahuku. Kelas sudah dalam keadaan kosong sebelum kudapati Yoonji sedang duduk di kursi Jungkook.

“Ayo pulang.”

Kulirik jam dinding di muka kelas. Bagaimana mungkin aku tidak sadar kalau sudah ketiduran selama dua jam sejak sesi ujian terakhir selesai? Dan kenapa si Jeon Jungkook itu tidak membangunkanku?

“Satpam akan mengunci gerbangnya lima menit lagi. Bergegaslah.”

Lagi-lagi perhatianku tertuju padanya. Dia sudah bangkit dari duduknya, menungguku. Mau tak mau aku juga segera bangkit sambil mencangklong tas.

Kami berjalan saling bersisian menuju halte. Aku sudah tidak lagi naik sepeda. Jari-jari tanganku kini lemah. Mungkin masih bisa dipakai menulis, tapi tidak untuk menarik pelatuk rem sepeda. Jadi mau tidak mau, aku harus pulang pergi dengan bus. Setidaknya dengan begini, aku punya alasan untuk mengantar Yoonji pulang.

“Kau tidak perlu mengantarku,” katanya saat bus menuju rumahnya sudah datang. Ia menahanku untuk tidak membuntutinya masuk ke dalam bus.

“Ini sudah malam. Bahaya kalau kau pulang sendirian.” Aku menggeleng.

“Kau sedang demam. Harus segera beristirahat.”

Sempat aku dibuatnya terdiam, sebelum terdengar sopir menegur kami.

Aku pun tersenyum padanya, sambil meraih tangannya. “Kaja, anggap saja ini sebagai balas budiku karena sudah kau temani selama dua jam.”

Tanpa merasa perlu mendengar responnya, segera kugandeng dia masuk ke bus itu. Hanya tersisa tempat pas di belakang sopir, segera kami mendudukinya.

Ngomong-ngomong, hari ini banyak sekali hal yang terjadi. Semuanya tidak ada yang direncanakan, namun berjalan begitu saja seperti air mengalir. Pagi tadi pun kami seperti ini, satu bus, saling bersisian. Sayangnya tadi pagi aku kurang bisa menikmati momen kebersamaan kami. Perasaan tidak berdaya yang kurasakan setelah mendengar penuturan Mingyu soal Jihyun, membuatku down se-down down-nya. Dia benar, aku dan ayah ibu tidak akan sanggup menghidupinya. Membayar biaya rumah sakit saja kami masih sangat kesulitan, bagaimana dengan membiayai sekolah dan keperluan lain-lain Jihyun? Tapi jika memercayakan Jihyun padanya, aku masih tidak rela. Bagaimana jika Mingyu justru membawa pengaruh buruk untuk anak itu? Ini membuatku khawatir, sangat-sangat kha—

“Memikirkan Jihyun?”

Refleks pandanganku teralih pada pemilik suara. Entah sejak kapan, Yoonji sedang memperhatikanku. Ah … saling pandang seperti ini aku jadi merindukan masa-masa saat kami masih pacaran. Ingin memeluknya, mengecup pipinya, bermanja-manja di bahunya. Tapi tersenyum saja rasanya sudah asing, seperti ada tembok tinggi yang membatasi pergerakan kami.

“Hm. Aku khawatir dengan kondisinya.”

Ia masih menatapku. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan Yoonji saat kami pacaran dulu.

“Jangan bertindak gegabah seperti tadi pagi. Kita harus bertemu Jihyun dulu untuk mendengar sendiri apa alasannya. Dia pasti punya alasan kenapa ia tinggal dengan orang itu.”

“Ya, aku tahu. Hanya saja, melihatnya mabuk seperti tadi pagi, kurasa pria itu tidak sebaik yang kau kira.”

“Kita akan tahu dia orang baik atau bukan setelah bertemu Jihyun. Mungkin dia bukan orang baik bagi kita, tapi mungkin akan berbeda bagi Jihyun.”

Kau sangat dewasa dan tenang, Yoonji-a. Aku salut, meski kita bukan sepasang kekasih lagi kau masih tetap berada di sisiku, membantu dan mengkhawatirkanku.

“Terima kasih.”

Yoonji menatapku dengan kedua alis terangkat, seolah mengatakan, “Untuk apa?”

“Bersamaku,” jawabku sembari meraih dan menggenggam tangannya di atas paha.

Kami bertahan seperti itu hingga turun dari bus. Bahkan tidak sekalipun kulepas selama menyusuri jalan lengang menuju rumahnya. Seolah memberi tahu angin malam, bulan, bintang, lampu-lampu jalan dan hewan-hewan kecil yang memeriahkan keheningan malam itu bahwa ia adalah milikku seorang. Tidak ada yang boleh bersamanya selain aku. Tidak ada yang boleh menggenggam tangannya seperti ini selain aku.

Namun kenyataan menamparku begitu cepat. Ayah Yoonji. Meski tidak di sana, tapi melihat rumahnya saja sudah membuat kepercayaan diri yang kubangun tadi runtuh hingga tersisa puing-puing. Enggan, kulepas tangannya. Langkah kami otomatis berhenti. Tidak berada tepat di depan rumahnya, masih ada jarak dua meter sebelum sampai di pintu gerbang.

Kupaksakan senyum saat menyadari kekecewaan di netranya.

“Terima kasih untuk hari ini. Sekarang masuklah. Orangtuamu pasti khawatir.”

Ia sama sekali tidak beranjak. Hanya menatapku, seperti ingin mengatakan sesuatu. Walau aku tidak bermaksud menantinya mengucapkan apa itu, aku tetap merasa kecewa saat ia hanya mengangguk begitu saja dan segera meninggalkanku memasuki rumahnya. Aku tahu ini aneh, tapi aku ingin sekali dia mengucapkan “selamat malam” sebelum menghilang dari gerbang itu.

BAM

Yoonji benar-benar pergi.

Tidak ada yang bisa kulakukan lagi di tempat itu. Aku juga memilih pergi dari sana. Pulang ke rumah untuk berganti pakaian lalu pergi ke rumah sakit, menggantikan eomma menjaga appa. Hanya ada Yoonji di pikiranku saat duduk di lantai rumah sakit yang beralaskan tikar tipis. Ruang rawat ayah seperti biasa ramai oleh para suster yang mondar-mandir serta keluarga pasien yang saling mengobrol. Namun ayah sama sekali tidak terpengaruh, dia tidur lelap sekali, mengabaikan aku yang sedang tersiksa oleh rasa rindu bercampur dilema terhadap hubunganku dengan Yoonji.

Mungkin, bukan ‘kami’ alasan mengapa hubungan ini menjadi sulit, pikirku sembari menyandarkan kepala pada kerasnya nakas. Aku mencintai Yoonji, sangat, dan masih hingga detik ini. Pun aku yakin Yoonji sama. Hanya saja, status sosial yang saling bertolak belakang dan penilaian ayah Yoonji terhadapku itulah yang menjadikan hubungan ini sangat sulit.

Apa yang harus kulakukan?

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s