Cactus [#3 Who (2)]

ohnajla 

mystery, school life

General

Chaptered

Min Cheonsa (OC), Kim Taehyung (aka V BTS), Min Yoongi (aka Suga BTS), Jeon Jungkook (BTS), Kim Seokjin (aka Seokjin BTS), Oh Sena (OC), others

###

#1 Who? #2 Friend? #3 Who? (2)

###

“Bersama itu jauh lebih baik daripada sendirian. Bukannya kau sendiri yang bilang?”

 

Masih di hari yang sama, si siswa teladan benar-benar telah membuat hari Cheonsa makin buruk. Maksudnya, Cheonsa hanya ingin menikmati makan siangnya sendiri seperti biasa, tapi murid teladan itu tiba-tiba muncul entah dari mana sambil membawa baki makanan sendiri. Cheonsa yang berniat memasukkan suapan pertama pun, terpaksa mengurungkan niatnya.

“Kau tahu kata pepatah bukan? Bersama itu jauh lebih baik daripada sendirian,” ujar Taehyung setelah mengerti maksud tatapan Cheonsa.

Cheonsa memutar bola matanya. “Kau sungguh luar biasa, makhluk teladan.”

Taehyung tersenyum. “Kuanggap itu sebagai pujian. Ow … kau vegetarian?”

Cheonsa ikut-ikutan melihat baki makanannya sendiri. Hm … sebenarnya dia bukan vegetarian, tapi entah kenapa tak ada satu pun asupan hewani di bakinya kecuali telur gulung. Sementara saat ia melihat isi baki makanan Taehyung….

“Kau memang luar biasa.”

Sungguh, hampir tak ada satu pun asupan selain hewani di baki milik Taehyung. Bulgogi tampak menggunung, begitu pula dengan telur gulung dan sosis.

“Tahu tidak? Hari ini kau sudah memujiku sebanyak tiga kali. Dan sebagai ucapan terima kasih, kuberi kau sepotong sosis. Aku tak pernah mau membagi makananku dengan siapa pun, tapi sekarang karena kau adalah temanku, makanlah.”

Cheonsa terpaksa membuka mulutnya karena Taehyung terus mendesaknya untuk membuka mulut. Dia benar-benar seperti orang bodoh yang menggigit sosis.

Taehyung tersenyum puas saat Cheonsa akhirnya menggigit dan mengunyah sepotong kecil dari sosis yang diberinya.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau membawa kaktus ke sekolah?”

Tekanan darah Cheonsa melonjak tiba-tiba. “Sudah kubilang bukan aku yang membawanya.”

“Lalu siapa? Kaktus itu ada di lokermu, kalau bukan kau yang membawanya, siapa lagi?”

“Ada orang yang menaruhnya di lokerku.”

“Oh ya? Apa dia penggemarmu?”

Cheonsa menggendikkan bahu. Sesaat setelahnya dia menyadari sesuatu. “Kenapa aku menceritakannya padamu? Aish, pergi sana.”

Taehyung tampak sedang mengunyah dengan mulut penuh. “Dengar. Kalau aku sudah memakan makananku, berarti tak ada yang bisa mengusirku. Orang makan tidak boleh diganggu, Nona.”

Cheonsa berdecak. Sudahlah, dia memang selalu kalah kalau berdebat mulut dengan siswa teladan satu ini. Lebih baik dia pergi saja mencari tempat baru daripada tidak jadi makan karena harus berdebat dengan Taehyung.

Ia memilih meja yang terletak di paling sudut ruangan, cukup jauh dari mejanya yang tadi. Lokasi ini cukup menyenangkan. Karena di pojok, jadi tak ada siapa pun yang mau memperhatikannya. Sehingga dia bisa makan dengan te—

Nom nom.”

Sekali lagi suapan pertama harus tertahan di depan mulutnya. Cheonsa mendengus sembari merotasikan bola matanya.

TAK!

“Hei, bisa tidak kau membiarkanku makan dengan tenang?”

“Sejak tadi aku membiarkanmu makan dengan tenang,” jawab Taehyung di sela-sela kunyahannya.

“Maksudku biarkan aku makan sendiri.”

“Bersama itu jauh lebih baik daripada sendirian. Bukannya kau sendiri yang bilang?”

Lagi-lagi Cheonsa memutar bola matanya. Hmm bisa-bisa bola matanya kehilangan kendali dan terus goes round and round seperti hamster di dalam bola. Jika itu terjadi, mari salahkan Kim Taehyung.

“Itu hanya berlaku saat piket. Tidak untuk kegiatan privasi seperti ini.”

Taehyung menyingkirkan baki makannya ke samping, sementara dirinya menumpuk kedua lengannya di atas meja dengan tubuh yang condong ke depan. “Makan bersama teman adalah kegiatan yang bukan privasi, Nona. Oh? Are you playing hard to get now?

“Bicara apa sih kau ini,” dengus Cheonsa yang kemudian menyerah dan langsung melahap makanannya di sana. Ia tak mau menyia-nyiakan jam istirahatnya hanya untuk berdebat dan berakhir dengan perut kosong sampai sore nanti.

“Nah, begitu, seharusnya sejak tadi kau seperti itu, Nona kaktus.”

Cheonsa melotot.

“Ah, atau kupanggil saja Sandy Cheeks?”

“Tidak keduanya.”

“Oke, telah diputuskan, kau adalah Sandy Cheeks.”

Cheonsa makin yakin jika kendali matanya akan benar-benar rusak karena terus berputar setiap dirinya gagal mengalahkan Taehyung.

Cheonsa menempatkan pot kaktus kecil itu di dekat jendela kamarnya. Warnanya yang hijau dengan pot yang putih, terlihat sangat menarik perhatian. Cheonsa bukan tipe orang yang suka memiliki barang banyak-banyak, bahkan kamarnya terkesan seperti ruang kosong daripada kamar. Melihat ada tanaman di kamar ini, entah kenapa malah terlihat ganjil.

“Siapa sebenarnya yang menelantarkanmu ke lokerku? Jawab aku, jangan hanya diam saja.”

Akal sehatnya mulai rusak. Ia cukup dibuat frustasi oleh tingkah Taehyung seharian ini dan sekarang ditambah dengan kaktus antah berantah ini. Cheonsa menggaruk rambutnya asal. Kemudian dia balik badan dan ambruk di atas kasur empuknya.

“Ugh … kepalaku pusing.”

Flashback

“Hei Yoongi. Yoongi!”

Yoongi pun akhirnya menggeliat. Salah satu matanya membuka, melihat Cheonsa yang berdiri di sampingnya. “Apa lagi?”

“Ini sudah bel. Kau mau menginap di sini?”

Yoongi tampak bermalas-malasan sejenak sebelum akhirnya menegakkan punggungnya juga. “Sudah waktunya pulang?”

“Menurutmu?”

Yoongi menguap lebar, membuat Cheonsa mengernyit jijik dan bertanya-tanya kenapa Sena yang notabene dewi sekolah mau mau saja dengan sepupunya yang menjijikkan ini. Padahal masih banyak sekali lelaki keren di luar sana yang jauh lebih baik dari Min Yoongi.

“Kenapa kau masih di sini?” tanyanya yang benar-benar membuat Cheonsa kesal.

“Aku membangunkanmu. Bukankah seharusnya kau berterima kasih?”

“Ya, terima kasih,” sahut Yoongi dengan suara malasnya sembari memasukkan semua barang-barangnya di meja ke dalam tas.

Saat Yoongi akan beranjak, Cheonsa pun menahan lengannya. “Apa lagi sih?”

“Karena aku sudah membangunkanmu, sekarang kau harus ikut aku dulu.”

Yoongi mengernyit. “Ke mana?  Kalau mengantarmu pulang, aku tidak bisa. Ada urusan penting yang harus kulakukan.”

Cheonsa kembali menahan Yoongi yang akan pergi begitu saja. “Lupakan urusan penting hibernasimu itu, Min Yoongi. Ada yang sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Kau harus ikut aku.”

Sebelum Yoongi berdalih lagi, Cheonsa pun langsung menariknya menuju koridor loker. Ia pun membuka lokernya dan menyuruh Yoongi melihat sesuatu di dalam lokernya itu.

“Kau bawa kaktus ke sekolah?”

Aniya! Kenapa sih semuanya selalu bertanya begitu?” sungut Cheonsa sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sementara di sisi lain Yoongi tampak sedang memperhatikan tanaman itu lebih dekat.

“Ah ini….”

Ekspresi Cheonsa mendadak sumringah. “Kau tahu siapa yang menaruhnya di sini?”

Yoongi menoleh pada Cheonsa dengan wajah serius. “… tidak.”

Bahu Cheonsa langsung jatuh.

“Tapi….”

Cheonsa kembali menatapnya dengan penuh harap. “Ya, ya, tapi….”

“Sena tadi menceritakannya padaku bla bla bla—”

Flashback end

Cheonsa menghela napas. “Memangnya apa yang bisa diharapkan dari orang itu. Hah … setiap waktunya hanya sibuk tidur mana mungkin dia tahu siapa yang menaruhnya di sana.”

Ia pun membalikkan tubuhnya, menghadap langit-langit kamar. “Jadi kalau Yoongi bukan, Taehyung juga bukan, lalu siapa?”

Meski Cheonsa berusaha berpikir sampai menjungkirbalikkan otaknya pun tak akan ketemu. Pasalnya, ia tidak begitu kenal banyak orang di sekolahnya. Sementara jika laki-laki, ia hanya mengenal 4 orang dan itu pun dua di antaranya sudah pasti tidak mungkin. Jadi—

“Ah aku tidak mau tahu! Terserah! Terserah! Pusing….”

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s