Loner [v. stigma]

ohnajla || school-life, romance, friendship || G || Chaptered

Park Jimin (Jimin BTS), Jung Yeon (OC), Oh Sena (OC), Min Yoongi (Suga BTS), other cameo

Prolog

i. her

ii. serendipity

iii. let me know

iv. like

v. stigma

Dialah si Loner, Park Jimin

 

Mungkin kesannya seperti menghindar. Tapi sebenarnya, Yeon hanya ragu apakah Jimin sudah berhenti penasaran atau malah belum padanya. Dia hanya belum siap untuk menjelaskan semuanya. Rasanya aneh saja untuk ‘curhat’ pada orang lain. Apalagi orangnya adalah Park Jimin.

Memangnya mereka siapa?

Teman? Dari mana?

Sahabat? Wah bercanda kali ya.

Kakak-adik? Eyuh~ demi apa Yeon harus memanggil si cengeng itu kakak. Yang ada dialah yang seharusnya dipanggil kakak.

Pacar?

BRAK!

“Yang benar saja! Gila ya?!”

Sepersekon kemudian, Yeon menyesali tindakannya itu.

“Ya, kau sudah gila. Sekarang keluar dari kelas. Berdiri di luar sampai jam saya selesai.”

“I-iya, Ssaem. Maaf.”

Bersama dengan kikikan tertahan kawan-kawan sekelasnya, dia menyeret kedua tungkainya keluar dari kelas. Seperti yang disuruh, dia berdiri di depan kelasnya, sambil merutuki perbuatan bodoh yang telah dilakukannya barusan.

Akhir-akhir ini, sosok Park Jimin memang berhasil menyita isi otak Jung Yeon. Sampai gara-gara itu ia kerap lupa latihan untuk audisi teaternya. Bagaimana ia bisa latihan kalau Jimin telah mengontaminasi pikirannya? Duh, sepertinya dia butuh suntik antibodi untuk mematikan virus Park itu.

“Oh?”

Reflek Yeon menoleh ke asal suara. Sekejap matanya membola.

Shit.

Yeon menelan ludah, berusaha terlihat biasa saja sementara orang itu melirik papan nama kelasnya.

“Ini kelasmu?”

“Ya. Kau sedang apa di sini?” tanyanya sok jutek padahal sebenarnya dia berdebar parah. Kenapa aku seperti ini?

“A-ah aku baru saja dari toilet.”

“Bukannya di lantai dua juga ada?” todongnya tajam. Kelas tahun kedua berada di lantai dua, di sana pun sudah disediakan toilet untuk siswa. Yeon heran, kenapa ke toilet harus di lantai satu segala?

Orang itu, seperti yang kalian pikirkan, Park Jimin, menggaruk tengkuknya canggung. “T-tidak dari toilet. Ba-barusan aku—”

“Apa yang kau bawa itu?”

Jimin segera menyembunyikan sesuatu yang dia pegang di belakang tubuhnya. “Bukan apa-apa.”

Yeon malah semakin penasaran. Dia langsung menghampiri Jimin, berusaha merebut barang yang disembunyikan tersebut. “Kemarikan.”

“Ini bukan apa-apa, sungguh.”

“Kalau memang bukan apa-apa, kenapa kau sembunyikan segala?”

“I-ini hanya sampah.”

Setelah cukup lelah berjuang, akhirnya Yeon pun berhasil mendapatkan benda itu. Sesuatu yang terbungkus plastik hitam. Jimin menunduk dalam saat Yeon memelototinya usai mendapati isi dalam plastik hitam itu.

“Apa ini?”

Jimin tertunduk semakin dalam mendengar nada tajam Yeon.

“Darah siapa di tisu-tisu ini?”

Tetap tak ada jawaban.

Yeon menghela napas jengah. Setetes air mata yang barusan ia lihat jatuh bebas ke lantai itu, membuatnya meremas plastik hitam itu erat. Hitungan detik berikutnya, setelah melihat gurunya sibuk mengajar tanpa memedulikannya, ia segera meraih lengan Jimin dan menyeretnya pergi.

Rooftop.

Yeon melepaskan cekalannya. Matanya meneliti wajah Jimin yang kini sudah basah dengan air mata. Sekali lagi ia menghela napas. Diraihnya lengan kiri Jimin, menyibak kain yang menutupi, dan seperti dugaannya, di sanalah terdapat perban tipis yang membebat sebuah kapas kemerahan.

“Bodoh.”

Jimin terisak.

“Kenapa kau tidak mendengarkanku, huh? Apa maksudmu dengan ini?”

Jimin segera menarik tangannya. Menggeleng.

“Apa ini karenaku?”

Tak ada jawaban. Yeon berspekulasi jika tebakannya benar. Ia lagi-lagi menghela napas.

“Baiklah. Mari kuluruskan masalah ini. Jika kau menganggap aku membencimu karena … tidak lagi mendatangi tempat ini … atau whatever … kau salah. Aku juga bukannya menghindarimu meski kelihatannya begitu. Kau tahu, seperti saat kau baru saja mengatakan rahasiamu pada orang lain dan kau merasa malu, begitulah. Jadi, aku tidak membencimu, sama sekali.”

Jimin menyeka wajah menggunakan punggung tangan kanannya. Pelan ia mengangkat wajahnya, bertemu tatap dengan Yeon. “J-jadi … kau tidak membenciku?”

“Hm. Aku temanmu, mana mungkin aku membencimu.”

“K-kau tidak dijauhi teman-temanmu?”

“Tidak.”

“K-kau tidak juga dikucilkan teman-temanmu karena berbicara padaku?”

Yeon mengerjap. “Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”

Jimin kembali menunduk. “K-kau tadi di luar kelas sendirian. Kupikir kau dikucilkan teman-temanmu….”

Yeon terdiam sejenak, mengamati bagaimana tubuh Jimin gemetar karena sesenggukan. Lantas ia pun tertawa, lepas. Saking lepasnya—bahkan perutnya sakit, ia tak menyadari jika si-cengeng-kakak-kelasnya itu memandangnya terpana.

Yeon menyeka air mata sebelum ekspresi wajahnya kembali datar dalam sekejap.

“Apa yang kau lihat?”

Jimin yang tersentak, menggeleng. “T-tidak.”

Yeon berdehem. “Baiklah jadi … aku di luar kelas bukan karena dikucilkan oleh teman-temanku. Satu-satunya alasan mengapa aku ada di sana karena….”

Jimin mengangkat kedua alisnya saat Yeon menatapnya meneliti. Pipinya tiba-tiba bersemu karena Yeon tidak kunjung mengenyahkan jenis tatapan itu padanya.

Gadis itu berdecak. “Kenapa juga aku memberitahumu. Intinya bukan karena seperti yang kau pikirkan.”

Jimin mendesah lega. Setidaknya, apa yang ia pikirkan tidak benar-benar terjadi.

“Sekarang giliranmu. Berikan aku alasan logis mengapa kau melakukan itu pada tanganmu sendiri.”

Arah pandang Jimin jatuh pada pergelangan tangan kirinya. Masih berdenyut sakit di sana. Ia juga heran kenapa ia bisa menghunjamkan ujung cutter pada jalan nadinya itu. Jika harus mengingat alasannya, hanya ada satu.

“Kupikir kau membenciku.”

Yeon terkesiap oleh suara berat yang tak pernah ia dengar dari bibir tebal kemerahan Jimin.

“Aku kesepian saat kau tidak pernah datang kemari lagi. Rasa sakitnya lebih dari sebelum kau datang. Sangat mencekik, dan parahnya aku tidak tahu di mana rasa sakit itu berasal. Jadi aku melakukannya … berharap dengan begitu … ada sebuah alasan mengapa rasanya sakit sekali.”

Angin berembus kencang menerpa tubuh mereka. Kini tak ada satu pun air mata yang ingin membasahi pipi putih Jimin. Malahan, yang Yeon lihat saat ini adalah sebuah kurva yang terbentuk sempurna, ditambah dengan bulan sabit yang entah kenapa bisa ada dua dan tidak lagi berada di langit.

“Syukurlah kalau ternyata kau tidak membenciku.”

.

.

.

“Ck, kenapa panas sekali sih hari ini?”

“Ngh? Wajahmu merah, Yeon.”

“Ck! Itu karena di sini panas sekali! Ah aku tidak betah.” Yeon terburu-buru menaruh kantong plastik hitam ke tangan pemiliknya sebelum beringsut menuju pintu. Namun baru saja berhasil mengambil sepasang langkah, ia sudah dipaksa untuk berhenti lagi dan menoleh ke belakang.

“Besok kau ada audisi teater, ‘kan? Bagaimana kalau nanti … sepulang sekolah … kalau kau tidak keberatan sih … aku ingin mengajakmu menonton pertunjukan teater di gedung seni kota.” Melihat Yeon yang hanya terpaku, Jimin buru-buru melepas cekalannya. “A-ah aku tidak memaksa. Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa. A-aku tidak bermaksud apa-apa. Lagi pula aku sadar diri kalau aku—”

“Oke. Sepulang sekolah.”

Jimin membelalak. “Kau mau?”

Yeon mengangguk seadanya, lantas ia berbalik melanjutkan langkah. “Kutunggu di halte.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s