Bangtan House [#11 ILY]

ohnajla || family, friendship, bromance, romance, marriage life || Teen || Chaptered 

Main Cast: 

– BTS members

– OC

Prolog | Rumah No. 1 | Rumah No. 2 | Rumah No. 3

Rumah No. 4 | Rumah No.5 Rumah No. 6 | Rumah No.7

Kagemusha | First Love | Beautiful Life

Bisa melihatnya dari jauh saja sudah membuatku bahagia. Mungkin dia tidak tahu jika aku memperhatikannya, menjaganya, mengkhawatirkannya di sini. Dia tidak melihatku. Dia hanya melihat yang lain.

Aku sadar jika diriku memang bukanlah yang terbaik untuknya. Aku tidak memiliki apa yang dimiliki oleh orang yang disukainya. Aku hanya memiliki perasaan ini, yang dia sendiri tidak tahu jika perasaan ini untuknya.

Sesuatu yang bisa kulakukan selama di rumahnya hanyalah bermain dengan adik-adiknya. Sambil sesekali memantau pintu kamarnya yang sering dalam keadaan tertutup.

Aku selalu bertanya-tanya, “kira-kira apa yang dilakukannya di kamar?”

Jika aku sedang waras, biasanya yang terlintas di kepalaku adalah, “Ah … mungkin dia sedang baca buku dengan telinga tersumpal earphone sambil tiduran di ranjang.” Atau, “Bisa jadi dia sedang mengerjakan tugas-tugas sekolah.”

Tapi saat aku sedang tidak rasional, jawaban yang selalu terlintas di kepalaku terkadang membuat diriku sulit untuk tidak tersenyum. “Dia pasti sedang duduk bersandar pada pintunya, mencoba mendengar suaraku dengan menempelkan telinganya, mengumpat saat dia tidak bisa mendengar suaraku, lalu dia berteriak heboh di balik bantal setelah mendengar suaraku yang menyebut namanya.”

Biarkan lelaki manis sepertiku untuk berfantasi, pemirsa. Jika kalian berada di posisiku, kalian pasti juga akan berpikiran seperti itu tentang orang yang kalian sukai. Biar kutebak, kalian pasti selalu mengaku sebagai istri dari biasmu ‘kan?

Sayangnya aku tidak bisa membanggakan diri sebagai suami dari Jarim karena dia bukan idol. Justru lebih baik dia tidak jadi idol karena aku benci jika dia harus pamer paha dan perut di depan orang banyak. Mengakulah, kalian juga tidak ingin ‘kan jika bias kalian berpacaran dengan idol lain?

Ya, aku juga paling tidak suka melihat Jarim dekat-dekat dengan pria lain. Terutama Park Jihoon. Anak itu, euh! Dia itu banyak alasan sekali kalau datang ke sini. Kerja kelompoklah, bosanlah, ingin mengajak ngobrollah, padahal intinya hanya ingin bertemu dengan Jarim. Coba aku. Aku bahkan tidak perlu membuat banyak alasan untuk datang kemari. Tapi aku tak pernah bisa duduk berduaan dengannya seperti yang curut cilik itu lakukan.

Di sekolah pun aku tidak punya banyak akses untuk mendekati Jarim. Kami bersekolah di SMP yang sama, termasuk curut cilik itu. Mereka seangkatan, sekelas bahkan. Tidak denganku yang menjadi senior mereka.

Terkadang aku menyesal telah dilahirkan setahun lebih awal dari Jarim.

Aku tahu dengan pasti di mana kelasnya, apa saja jadwal pelajarannya, kapan dia ikut ekstrakulikuler, kapan dia pergi ke perpustakaan, ke kantin bahkan ke toilet aku juga tahu. Kalian bisa beri aku julukan penguntit atau stalker, terserahlah apa pun itu tapi aku tidak akan peduli.

Aku melakukan ini karena kata hatiku.

Jarim selalu yeppeo dengan rambut bob-nya yang tidak pernah berantakan meskipun hari berangin. Aku bersyukur dia tidak satu bangku dengan curut sialan itu. Ke mana pun dia pergi dia selalu bersama satu temannya, kudengar namanya Park Siyeon. Temannya memang sangat cantik, tapi aku lebih menyukai wajah natural dan lesung pipi Jarim saat dia tersenyum.

Hanya hatiku yang tahu jika aku memendam rasa padanya. Aku tidak memberitahu Namjoon hyung, atau Jimin hyung, atau Taehyung hyung, atau Misuk, atau siapa pun itu. Bahkan buku saja tidak kuperkenankan untuk mengetahuinya. Aku selalu menuliskan namanya di udara, air dan bintang. Hanya mereka yang tahu. Karena aku percaya jika mereka tidak akan memberitahukannya pada siapa pun.

Ada yang bilang, jika kau jatuh cinta maka kau harus mengungkapkannya pada orang tersebut.

Tapi aku tidak ingin melakukannya. Ini belum saatnya.

Aku tidak mau terlihat aneh di depannya jika tiba-tiba aku datang padanya dan mengungkapkan perasaan.

Agresif seperti curut busuk itu bukanlah gayaku.

Aku ingin ini berjalan pelan-pelan.

Menurutku, membuat Jarim nyaman adalah prioritas utama.

Aku tak bisa memaksakan cinta, tapi aku bisa membuatnya nyaman.

Setidaknya dengan melihatnya dari jauh ini, dia merasa nyaman denganku. Jarim tidak berpikir aku mengganggu saja itu sudah cukup untukku. Setidaknya, untuk saat ini.

Aku percaya jika semua hal pasti akan ada waktunya sendiri.

Dan hari itu datang.

Si curut sudah tidak lagi satu sekolah dengan kami. Kami di SMA Young Forever, dia di SMA Sonyeondan. Karena jarak usia kami yang tidak terlalu jauh dan kami bersekolah di tempat yang sama, terkadang ibunya menyuruhku untuk berangkat bersamanya.

Sudah pasti aku tidak menolak. Justru dengan senang hati kuterima.

SMA Young Forever terbilang cukup jauh, jadi kami harus naik bus untuk menghemat waktu. Lagi pula Jarim tidak bisa naik sepeda karena ibunya terlalu khawatir dia akan terkena masalah di jalan. Bahkan saat kutawarkan diri untuk memboncengnya, ibunya juga menolak.

“Nanti kalau tali sepatunya masuk rantai sepeda bagaimana?”

Alhasil aku pun mengiyakan saran ibunya untuk berangkat dan pulang sekolah dengan naik bus. Cukup menyenangkan, dengan begitu aku bisa duduk bersebelahan dengan dia saat bus tidak terlalu penuh, dan bisa berdiri di dekatnya saat bus penuh sesak.

Awalnya kami tidak begitu banyak bicara. Jarim masih kaku padaku. Saat kutanya sesuatu, jawabannya antara ‘ya’ atau ‘tidak’, terkadang saat kuberi pilihan dia menjawab ‘terserah’. Namun mendekati ujian tengah semester, akhirnya kami mulai bisa bicara dengan santai.

Kini aku sudah bisa menanyakan pertanyaan yang lebih intim. Terlebih sekarang, saat aku sudah kelas 3 sementara dia kelas 2.

“Hei, kau sudah punya pria yang kau sukai?”

Dia yang sejak tadi melihat keluar jendela pun langsung menoleh padaku. Matanya yang indah itu tampak melebar. “Apa maksudmu, Sunbae?”

“Ah … kau pasti sedang menyukai seseorang ‘kan? Mengakulah.” Kali ini wajahku kubuat semenyebalkan mungkin. Biasanya jika aku melakukan ini, dia pasti akan tertawa dan memukulku.

“Haha, kau ini bicara apa sih?” Dia tertawa malu sambil memukul lenganku. Sudah kubilang ‘kan?

“Siapa, hm? Teman sekelasmu?” Semoga saja jawabannya tidak.

Dan dia menggeleng. Tiba-tiba saja aku ingin menyanyi Mansae.

“Lalu siapa dia? Sunbae? Hoobae? Atau … seonsaengnim?! Masa kau suka pada om-om?” Iseng kulakukan itu sambil melotot, seakan-akan terkejut. Dan reaksi Jarim sama seperti tadi. Aku suka. Tawanya itu.

Anieyo! Yang benar saja aku suka seonsaengnim. Dia tidak bersekolah di sana.”

Mendadak diriku teringat Jihoon. “Apa maksudmu orang itu Jihoon?”

Tak sadar aku menghela napas lega begitu dia mendelik sambil menggeleng cepat. “Maldo andwae. Jihoon aniya.”

Keundae … nugu?

Dia mengerjap-ngerjap sambil menatapku, membuatku gemas. Lalu bibir ceri-nya itu kembali berucap. “Sunbae sendiri ada yang sedang disukai?”

Yah, dia mengalihkan topik. Sepertinya dia mulai tidak nyaman dengan bahasan ini. Keurae. Aku pun menggeleng sebagai jawaban.

Tapi reaksinya sungguh di luar dugaanku. Dia terkejut.

“Yang benar? Bukankah sunbae menyukai Siyeon?”

Aku ketularan kaget. “Siyeon? Temanmu itu? Ani. Siapa yang bilang?”

Uri chingu. Mereka bilang kalau mereka sering melihatmu curi-curi pandang pada Siyeon. Itu … tidak benar ya?”

Keurom!” Jawabku dengan penuh semangat sampai membuatnya kaget untuk kedua kalinya. Sadar dengan diriku yang mulai tak terkendali, aku pun berdehem dan melanjutkan kalimatku. “Kenal temanmu saja tidak, bagaimana aku bisa menyukainya?”

“Tapi, bukankah itu mungkin saja, Sunbae? Lagi pula Siyeon juga cantik, populer bahkan. Masa kau sama sekali tidak menyukainya?”

Anak ini. Sepertinya dia sedang memaksaku untuk mengiyakan rumor itu. Akan kubuat perhitungan pada mereka yang telah menyebarkan berita sialan itu. Aku mencuri pandang pada Siyeon? Yang benar saja! Apa mataku ini kurang besar? Apa tidak kelihatan kalau sebenarnya yang selalu kulihat adalah gadis manis berlesung pipi ini? Mereka yang menyebarkan rumor pasti katarak!

“Yang sudah saling kenal saja bahkan tidak saling suka, apalagi yang belum kenal.”

Bisakah kau tangkap sinyal itu, calon gadisku?

“Ah … maja.”

Mataku langsung berbinar. Apakah dia sekarang sudah sadar dengan keberadaanku?

Ia menatap lurus pada jari-jari tangannya yang ada di atas pangkuan. Aku yakin dia sedang tersenyum, senyum yang tidak sesuai dengan ekspresiku sekarang. Entah kenapa aku merasakan feeling yang buruk.

“Kau benar, Sunbae. Kami bahkan saling kenal, tapi tidak saling suka. Sepertinya hanya aku yang menyukainya. Bukankah begitu?”

Dia menoleh padaku meminta jawaban. Membuatku terdiam karena tidak mengerti dengan siapa yang dimaksud olehnya.

Tahu-tahu dia tertawa.

I pabo. Orang yang kusuka adalah seseorang yang kau kenal, Sunbae.”

Seseorang yang kukenal?

Dia berhenti tertawa dan mengangguk. Lalu pandangannya kembali ke bawah. “Kim Taehyung sunbae. Aku menyukainya.”

Napasku tertahan detik itu juga.

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s