Loner [vii. purpose]

ohnajla || school-life, romance, friendship || G || Chaptered

Park Jimin (Jimin BTS), Jung Yeon (OC), Oh Sena (OC), Min Yoongi (Suga BTS), other cameo

Prolog

i. her

ii. serendipity

iii. let me know

iv. like

v. stigma

vi. first love

vii. purpose

You’re my blue mold, my angel, and my world. I am your calico cat, touch me and love me. 

Hari yang ditunggu-tunggu oleh Yeon akhirnya tiba juga. Ia telah bersiap dengan peserta yang lain untuk giliran casting. Konyolnya, casting itu dilaksanakan secara terbuka. Pada jam istirahat sekolah, bertempat di gedung aula. Meski tidak semua ikut menonton, tapi tetap saja, kehadiran sosok dengan warna rambut mencolok di sudut sana berhasil membuatnya gugup.

Setiap peserta telah diberi naskah masing-masing, pun dengan pasangannya. Bukan berpasangan dengan peserta lain, tapi justru dengan anggota inti klub teater.

Jung Yeon berpasangan dengan Kim Taehyung. Seorang anggota inti klub teater tahun ketiga, yang kerap kali menjadi pemeran utama pria dalam berbagai pentas.

Keringat dingin sudah membasahi seragamnya. Tangannya bahkan sudah beku di saat ia dan Taehyung latihan berdialog.

Dan saat ini entah untuk kesekian kalinya, Taehyung tertawa.

“Kenapa kau gugup sekali, Nona? Kalau seperti ini caranya, kau tidak akan terpilih sebagai anggota.”

Yeon tersenyum canggung sambil menyeka keringat di dahinya. “Maafkan aku, Sunbae.”

Taehyung tersenyum lembut. Ia merebut naskah milik Yeon yang langsung membuat si korban membelalak.

“Baiklah, lupakan dulu naskah ini. Sekarang tenangkan dirimu. Pejamkan mata, lalu ambil napas dalam-dalam, hembuskan pelan. Ambil napas … hembuskan. Ayo.”

Meski sedikit tidak rela, mau tak mau Yeon pun menuruti saran Taehyung. Ia memejamkan mata, mengambil napas dalam hingga paru-parunya terasa penuh, kemudian mengembuskannya pelan dari mulut. Berulang-ulang sampai kemudian ia benar-benar tenang.

“Bagus. Sekarang kau hanya perlu menghafal saja. Menurutku pelafalanmu sudah bagus, tapi ekspresimu masih kurang. Di sini kau marah padaku, jadi kau harus benar-benar terlihat marah. Dan cobalah untuk menatapku. Sejak tadi kuperhatikan kau selalu berusaha menghindari tatapanku. Kalau memang sulit, kau bisa melihat pertengahan antara mataku saja. Intinya, kau harus bisa membuat kontak mata. Ini bocoran, khusus untukmu.”

Yeon mengangguk antusias, menimbulkan senyum rectangular yang semakin mempertegas ketampanan seorang Kim Taehyung.

Lima menit kemudian, mereka telah berdiri di atas panggung. Para penonton yang sebagian besar murid perempuan, mendadak histeris saat batang hidung Taehyung terlihat. Telinga Yeon rasanya pekak mendengar lengkingan suara mereka. Kedua matanya menyapu barisan penonton yang riuh itu, dan di sanalah ia mendapati si rambut blonde.

‘Semangat!’

Yeon mengangguk lantas membungkuk bersama Taehyung untuk memulai acting mereka.

PLAK!

Tamparan keras di wajah Taehyung berhasil membuat penonton menahan napas. Yeon si pelaku, tampak berkaca-kaca netranya sedangkan Taehyung menoleh dengan wajah terkejut.

“Kau jahat.”

“Sayang….”

“Jangan berani-beraninya menyentuhku!” Yeon berseru keras sambil menepis tangan Taehyung yang berniat menggapai wajahnya. “Jauhkan tanganmu dariku, brengsek!”

Suasana gedung aula yang hening itu semakin membuat atmosfer terasa mencekam. Terlebih sebulir air mata Yeon yang jatuh bebas ke lantai panggung yang membuat pertengkaran itu semakin nyata.

“Sayang, tolong dengarkan penjelasanku dulu….”

“Tidak perlu … aku tidak butuh penjelasanmu! Semuanya sudah jelas! Bersenang-senanglah dengannya. Aku tidak akan memedulikanmu lagi.”

Sambil menyeka air matanya, Yeon berbalik pergi meninggalkan Taehyung. Namun tiba-tiba Taehyung menahan lengannya, membuatnya terpaksa berhenti.

“Mina, dengarkan aku dulu. Dia hanya temanku. Kami bertemu hanya untuk urusan bisnis, tidak lebih.”

“Urusan bisnis katamu?” Yeon menoleh cepat dengan mata merahnya yang menyalang. “Bisnis macam apa yang mengharuskanmu bertemu dengannya di bar, hah?! Aku bahkan tidak pernah tahu bisnis apa yang sedang kau kerjakan, Joe.”

“Karena itu kujelas—”

“Cukup! Hentikan semua ini, Joe. Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi. Cukup. Aku sudah lelah. Selama ini kau tidak pernah mengerti perasaanku. Aku sudah capek menjadi pihak yang selalu tersakiti. Tolong lepaskan aku. Biarkan aku bebas, Joe.”

“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu.”

“Joe!”

“Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu, Mina.”

Yeon menyeringai sambil menyeka wajahnya. “Aku juga mencintaimu, lebih dari apa pun.”

“Kalau memang kau mencintaiku, seharusnya kau mengerti, Mina.”

“Lalu bagaimana denganmu? Bisakah kau mengerti perasaanku?”

Taehyung terdiam. Air mukanya begitu menyesal saat mendapati wajah Yeon yang sudah sangat sembab.

“Tidak perlu memaksakan dirimu, Joe. Kau bebas melakukan apa pun bersamanya sekarang. Tidak akan ada yang menghalangimu lagi, atau pun memarahimu. Sekarang kau bebas.”

Yeon melepas cengkraman Taehyung di lengannya sebelum berbalik pergi. Tepuk tangan penonton riuh menyemaraki gedung aula saat ia sampai di balik panggung. Ia pun naik ke atas panggung kembali sambil menyeka wajahnya menggunakan tisu yang diberikan oleh panitia. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis ketika Taehyung memberinya jempol.

Ia berdiri di sebelah Taehyung, mendengar juri memberikan komentar atas penampilan mereka. Tapi ia tidak benar-benar fokus pada komentar juri. Seluruh perhatiannya telah tercuri pada reaksi para penonton. Ia sudah was-was jika mereka akan menyerangnya karena telah menampar wajah Taehyung dengan begitu keras. Namun yang didapatinya justru mereka yang menangis karena ikut terbawa suasana.

Termasuk si blonde di sudut sana.

Yeon menunduk untuk menyembunyikan senyum yang tidak bisa ia tahan.

Barusan, Jimin mengatakan, ‘Kerja bagus, Yeon’.

***

Sebuah pelukan menyambut Yeon setelah ia turun dari panggung.

“Kerja bangus, chingu-ya! Huwaa aku ikut menangis melihatmu menangis.”

Yeon mendengus, geli. Ia mendorong pelan tubuh bongsor kawannya itu, demi melihat bukti nyatanya. “Dasar cengeng.”

“Habisnya kau itu tidak pernah menunjukkan ekspresimu padaku. Aku sempat khawatir kalau kau tidak bisa menangis. Syukurlah kalau ternyata kau bisa menangis juga.”

Lagi-lagi Yeon mendengus. “Kau pikir aku ini apa, huh? Aku juga manusia.”

“Tapi serius, kau keren sekali, Yeon. Juri sepertinya juga menyukai gaya beraktingmu. Kau pasti akan terpilih.”

Yeon hanya menggendikkan bahu. “Kita lihat saja nanti.”

“Benar kata temanmu, kau pasti akan terpilih. Mereka tidak mungkin menyia-nyiakan bakat hebat sepertimu.”

Yeon maupun Sena, langsung menoleh ke asal suara. Sena seperti baru saja melihat hantu, nyaris dia menjerit andai Yeon tidak tanggap membungkam mulutnya.

“Ini berkatmu juga, Sunbae, terima kasih. Dan maaf untuk pipimu….”

Taehyung refleks memegangi pipi kirinya yang memerah. “Ah ini, hahaha. Tidak apa, tidak seberapa sakit kok. Lagi pula kalau dengan ini kau lolos, aku juga ikut senang. Ah aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu lagi di klub, Nona. Dah … kau juga, Sena-ssi.”

Hanya Sena yang membalas lambaian tangan Taehyung. Yeon? Dia justru fokus pada si blonde yang sedang mengintip di balik dinding tak jauh dari mereka.

“Yaah … sunbae itu luar biasa tampan kalau dilihat dari dekat….”

“Aku juga harus pergi.”

Pernyataan Yeon yang seolah tanpa bisa diganggu gugat itu langsung mengalihkan atensi Sena dari punggung lebar Taehyung. “Hm? Ke mana?”

“Rahasia,” jawab Yeon cepat secepat dia melangkahkan kaki meninggalkan Sena.

“Eh? Hei! Tunggu aku!”

“Kau cari saja kekasihmu itu! Jangan ikuti aku!”

“Yeon!”

Terlambat, Yeon sudah jauh meninggalkannya, membuatnya berakhir sendirian. Ia menghentakkan kakinya kesal. “Sekarang dia mulai bermain rahasia-rahasiaan denganku ya, dasar.”

“Kau akan dikira orang gila kalau marah-marah di situ sendirian.”

Sena langsung menoleh ke asal suara. “Oppa~

“Kalau pun temanmu punya rahasia, itu hak dia. Toh kau juga punya sesuatu yang dirahasiakan darinya.”

Bibir Sena mengerucut. “Kau membelanya?”

Kekasih Oh Sena, si kutu buku berkacamata kotak, Min Yoongi, menghela napas sambil menegakkan punggungnya dari dinding yang sempat disandarinya. “Aku hanya sedang mengingatkanmu. Berhenti memberiku ekspresi seperti itu. Ayo makan.”

***

“Hei.”

Jimin langsung menoleh. Ia tersenyum mendapati seseorang yang muncul dari pintu rooftop adalah Yeon.

“Kerja bagus, Yeon.”

Yeon menggaruk tengkuknya kikuk sambil melangkah mendekati Jimin. “Terima kasih.”

“Tapi kau tidak apa-apa ‘kan?”

“Kenapa?” tanya Yeon sambil menatap Jimin bingung.

“Matamu sampai bengkak….”

Napas gadis berambut hitam panjang itu tertahan di tenggorokan. Ia terhenyak dengan wajah Jimin yang tiba-tiba sudah berjarak begitu dekat dari wajahnya. Ia bahkan sampai bisa melihat dengan jelas warna merah di kornea Jimin pun dengan bekas air matanya.

“Aku khawatir saat melihatmu tiba-tiba menangis.”

Yeon segera mengambil satu langkah ke belakang. “Aku baik-baik saja. Jangan … khawatir.”

Jimin tersenyum. “Baguslah kalau kau baik-baik saja. Kau selalu memperlihatkan ekspresi datar, Yeon. Tidak kusangka kalau kau ternyata bisa menangis.”

Yeon membuang muka. “Memangnya kau pikir aku ini apa. Tentu saja aku bisa menangis.”

“Tapi jangan lagi.”

Gadis itu kembali dibuat menoleh. “Maksudmu?”

“Jangan menangis lagi. Itu menyakitiku.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s