Your Calico Cat [ix. the truth untold]

ohnajla || school-life, romance, friendship || G || Chaptered

Park Jimin (Jimin BTS), Jung Yeon (OC), Oh Sena (OC), Min Yoongi (Suga BTS), other cameo

Loner ganti judul menjadi Your Calico Cat

Prolog

i. her

ii. serendipity

iii. let me know

iv. like

v. stigma

vi. first love

vii. purpose

viii. nothing like us

ix. the truth untold

You’re my blue mold, my angel, and my world. I am your calico cat, touch me and love me.

Jung Yeon menjalani harinya seperti biasa, begitu pula Park Jimin. Namun ada yang berbeda dari mereka. Jika biasanya setiap jam istirahat Yeon selalu pergi ke perpustakaan bersama karibnya Oh Sena, kini tidak lagi. Jika biasanya Park Jimin selalu tampak begitu menyedihkan makan siang di pojokan kantin saat istirahat, kini tidak ada lagi pemandangan itu. Keduanya selalu datang ke rooftop. Bukan, Yeon datang bukan untuk latihan berakting. Bukan juga Park Jimin datang untuk menangis. Rooftop itu kini tidak lagi hanya sekadar lantai teratas gedung utama sekolah, tidak juga tempat yang tepat untuk melakukan percobaan bunuh diri. Rooftop itu saat ini terasa hangat. Ada canda tawa di sana bahkan cinta. Tanpa mereka sadari, tempat itu telah menyatukan mereka. Mempersatukan antara seorang penyendiri yang terlalu takut akan dunia dengan seorang expressionless yang hidupnya penuh dengan misteri. “Ah! Uljima. Kau ini pria tapi kenapa suka sekali sih menangis?” Yeon menyeka asal air mata Jimin menggunakan tisu. Jimin tampak kesusahan membuka matanya karena gerakan bar-bar Yeon. “Ceritanya terlalu menyentuh … aku tidak bisa menahan diri….” “Lain kali tidak akan kubawakan lagi tulisannya anak itu.” “Andwae. Aku suka membaca karya-karyanya.” “Aku akan membawakannya dengan syarat kau tidak akan menangis lagi.” “Baik, aku janji.” “Kemarin dan kemarinnya lagi kau sudah janji, Park Jimin. Dasar pembohong.” Yeon menyerahkan tisu tersebut ke dada Jimin dengan kasar, lantas merebut buku novel dari tangan Jimin. “Yeon-ie.” “Tidak akan.” Jimin menghela kecewa. Ia mengerucutkan bibir merahnya sambil mengelus-elus tisu di tangannya. “Kenapa kau selalu marah setiap kali aku menangis?” “Karena kau seorang pria.” “Pria tidak boleh menangis?” Yeon menggeleng. “Bukan begitu. Pria yang gampang menangis hanya akan membuatnya terlihat lemah. Dan karena ia terlihat lemah, orang-orang akan meremehkannya.” Jimin tertunduk. “Aku memang sudah seperti itu.” Gadis itu menghela napas. Ia menyeret dirinya untuk duduk lebih dekat dengan Jimin. Menangkup wajah kakak kelasnya itu supaya bertemu tatap dengannya. “Aku tidak ingin orang-orang meremehkanmu.” Wajah Jimin yang lembab dengan hidung dan mata merah serta pipi yang menyembul akibat ditangkupnya membuat ia tersenyum geli. Sayangnya karena dia jarang tersenyum, ia malah terkesan seperti sedang meringis. “Sudahlah, berhenti menangis.” Jimin menyedot ingusnya yang nyaris keluar dari lubang hidung. “Maaf.” “Kenapa lagi dengan minta maaf itu, huh?” “Kau selalu melihatku menangis, maaf.” Yeon menggeleng. Ia mengambil tisu baru untuk menyeka wajah Jimin dengan lebih lembut. “Itu bukan sesuatu yang patut dimintai maaf.” Jimin sendiri memejamkan mata, menikmati sentuhan Yeon. Ia selalu suka saat-saat bersama Yeon. Terlebih dengan sentuhan-sentuhan kecilnya yang sanggup membuatnya menggeram senang andaikata ia adalah kucing kecil. Ia membuka matanya perlahan sesaat setelah sentuhan Yeon tidak lagi terasa di wajahnya. Tatapan mereka saling bertemu. Ia tersenyum setelah beberapa detik berlalu hanya dengan keheningan indah di antara mereka. “Yeon.” “Hm?” “Pernahkah seseorang mengatakan ini padamu?” Kedua alis Yeon terangkat. “Mengatakan apa?” “Kalau kau cantik.” Pipi Yeon langsung bersemu. Hal itu terjadi secara cepat, ia berjengit sedikit saat dirasanya kulit tangan Jimin menyentuh daun telinganya, menyelipkan sejuntai rambutnya di sana. “Aku selalu penasaran dengan satu hal, Yeon.” Tubuh Yeon menegang tiba-tiba ketika Jimin meraih seluruh rambutnya dan menyatukannya di belakang dengan satu kepalan tangan. Lehernya yang tidak pernah terekspos akibat ia yang lebih suka menguraikan rambut panjangnya, kini tampak merinding oleh sentuhan semilir angin. Napasnya tercekat saat menyadari posisi wajah Jimin yang sangat-sangat dekat dengannya, bahkan dengan posisi Jimin saat ini membuat mereka seperti sedang berpelukan. “Kenapa kau tidak pernah mengikat rambut panjangmu seperti ini? Apa kau tidak gerah dengan rambut yang terurai? Bahkan saat musim panas seperti sekarang ini kau juga terus mengurai rambutmu.” Yeon dengan perlahan melepaskan tangan Jimin dari rambutnya, mendorongnya untuk menjaga jarak. “Aku lebih suka seperti ini,” katanya sambil menata rambutnya ke bentuk awal. “Sama sekali tidak terasa gerah.” “Wae?” Yeon menatap tepat ke keping mata Jimin. “Kau sendiri, kenapa kau suka sekali mewarnai rambut?” “Ah ini.” Jimin pun memegangi sejuntai rambutnya sendiri. “Aku bosan dengan warna hitam. Hitam membuatku terlihat semakin menyedihkan. Jadi aku memutuskan untuk mewarnainya, dengan harapan supaya aku terlihat sama berwarnanya.” “Bukankah di sekolah ini siswa tidak diperbolehkan mewarnai rambut?” “Ya. Tapi karena orangtuaku pemilik sekolah ini, jadi—” “Mwo?! Sekolah ini milik orangtuamu?” Yeon membelalak, sampai pada titik di mana bola matanya bisa saja melompat dari tempat. “Hm. Kau … tidak tahu?” “Maksudmu, semua orang di sini tahu itu?” Jimin mengangguk. Yeon menganga tak percaya. “Tapi kenapa kau dikucilkan? Kenapa orang-orang menyebutmu loner?” Jimin tersenyum. “Sepertinya kau tidak tahu satu fakta penting tentangku, Yeon.” “Apa maksudmu?” “Wanita yang kusebut sebagai ibuku saat ini bukanlah ibu kandungku.” Yeon mengangkat alis tinggi-tinggi, menunggu Jimin menyelesaikan penjelasannya. “Ia divonis tidak bisa memiliki anak akibat kondisi rahimnya yang sangat lemah. Dan sebagai gantinya, ayahku … membayar seorang wanita untuk menghasilkan keturunan. Wanita yang dibayar itulah, ibu kandungku.” Yeon kehilangan kata-kata. Menanggapi dengan bagaimana, dia juga tidak tahu. Sebegitu apatiskah dia sampai tidak tahu fakta penting temannya ini? Apa hanya dia saja yang tidak tahu tentang hal itu? “Jadi … mereka mengucilkanmu, karena itu?” Jimin mengangguk. Tercetak sebaris senyum di wajahnya, namun bukan sebuah senyum yang bermakna sebenarnya. “Dari mana orang-orang tahu infonya? Maksudku, bukankah itu bersifat personal?” “Ibu kandungkulah yang menyebarkan itu. Sejak aku menginjak usia sekolah, orang-orang di sekolah yang kutempati diberitahu olehnya statusku sebenarnya. Mungkin ia juga sudah menyebarkannya di sekolah ini.” “Bagaimana bisa dia melakukan itu?” “Ia bahkan pernah menculikku. Mengancam akan membuatku buta jika ayah tidak memberinya uang ratusan juta.” Yeon lagi-lagi dibuat menganga. “Itu tidak mungkin….” “Sayangnya itu benar-benar terjadi. Kau lihat ini? Dia sudah hampir menggores mataku dengan pecahan beling saat merekam video untuk mengancam ayah.” Yeon langsung mencondongkan badannya lebih dekat pada Jimin. Menyentuh dengan hati-hati goresan kecil yang awalnya dia pikir adalah bagian dari lipatan kelopak mata, bukannya goresan yang telah dijahit. “Jadi ini bekas jahitan….” Jimin memejam, lagi-lagi menikmati sentuhan kecil Yeon. Tapi kemudian dia dipaksa membuka kembali matanya saat dirasa sepasang lengan merengkuh punggungnya. Rambut hitam Yeon yang selembut sutra adalah yang terlihat paling dekat dari wajahnya. “Maafkan aku.” “Untuk apa?” “Karena aku tidak tahu. Maaf.” Jimin terdiam untuk sesaat. “Tidakkah kau merasa jijik padaku?” “Kenapa kau bisa bilang begitu?” “Semua orang mengatakan itu padaku.” “Jika semua orang bilang seperti itu, aku akan menjadi orang yang mengatakan hal sebaliknya.” “Apa maksudmu, Yeon?” “Kau luar biasa. Kau adalah orang paling tegar yang pernah kukenal selama ini. Kau berbeda. Spesial. Kau berharga, Park Jimin.”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s